Bacaan
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk memberikan keringanan saat sekelompok sahabat dalam perjalanan malam yang gelap tidak mengetahui arah kiblat, sehingga mereka salat ke arah yang berbeda-beda. Riwayat lain menyebutkan ini terkait salat gaib Nabi atas Raja Najasyi yang selama hidupnya salat menghadap Baitul Maqdis. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Ayat ini turun untuk memberi penjelasan bahwa kemana pun seseorang menghadap—karena tidak bisa menentukan arah kiblat akibat mendung atau semisalnya—selama itu ditujukan untuk mencari keridaan Allah, ia akan menemukannya di sana. Ada beberapa riwayat tentang sebab nuzul ayat ini, beberapa di antaranya adalah: (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
TopikMasjid, Kiblatullah, dan Kesatuan Arah Ibadah (114-118)
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Dan milik Allah timur dan barat. Ke manapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.
Moral Concern
(2:94-121): Pengkriminalisasian pluralisme — Menyatakan bahwa "tidak ada yang lebih buruk dari orang yang melarang menyebut nama Allah di mesjid-mesjid" (2:114) mengabaikan bahwa pengaturan ruang ibadah adalah masalah administrasi publik, bukan kejahatan teologis. Konsep ini digunakan untuk membenarkan intoleransi terhadap tempat ibadah non-Muslim.
Contradiction
Kontradiksi Lokasi Allah — 'Ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah' (Allah ada di mana-mana); bertentangan dengan 2:255, 57:4, 7:54, dan 11:7 yang menggambarkan Allah bersemayam di atas 'Arsy (tahta); dua konsep ini—imanensi total vs. transsendensi di Arsy—sulit dikompromikan.

