Bacaan
TopikGanjaran, Nasihat Terakhir, dan Khilafah Manusia
قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ ۚ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Katakanlah (Muhammad), "Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan."
Logical Fallacy
Argumentum ad Consequentiam: Motivasi tidak mencari Tuhan lain adalah ancaman bahwa dosa kembali pada diri sendiri — etika berbasis konsekuensi, bukan prinsip moral yang otonom.
Contradiction
QS 6:164 menyatakan setiap orang menanggung dosanya sendiri. Bertentangan dengan QS 29:12-13 yang menyatakan orang kafir akan menanggung dosa orang yang mereka sesatkan — beban dosa bisa berpindah ke orang lain.

