Bacaan
TopikKritik atas Adat Ritual Musyrik
وَكَذَٰلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلَادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُوا عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ ۖ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
Dan demikianlah sekutu-sekutu (setan) mereka menjadikan tampak indah bagi kebanyakan orang-orang musyrik membunuh anak-anak mereka, untuk membinasakan mereka dan mengacaukan agama mereka sendiri.326) Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak akan mengerjakannya. Biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan.
Catatan Depag
*326) Sebagian orang Arab adalah penganut syariat Ibrahim. Nabi Ibrahim -'alaihissalām- pernah diperintah Allah mengurbankan anaknya Ismail. Kemudian pemimpin-pemimpin agama mereka mengaburkan pengertian berkurban itu, sehingga dapat menanamkan kepada pengikut-pengikutnya rasa memandang baik membunuh anak-anak mereka dengan alasan mendekatkan diri kepada Allah, padahal alasan yang sesungguhnya ialah karena takut miskin dan takut ternoda.
Logical Fallacy
Non Sequitur Fallacy: Dari penjelasan pemimpin-pemimpin menjadikan pembunuhan anak tampak baik, tidak mengikuti secara logis klaim 'kalau Allah menghendaki tidak akan mereka lakukan.'
Moral Concern
(6:137): Menunjukkan pembiaran kekejaman terhadap anak-anak dengan menyatakan bahwa setan membuat orang musyrik memandang indah pembunuhan anak mereka sendiri, lalu menyimpulkan bahwa jika Tuhan mau, mereka tidak akan melakukannya—menjadikan Tuhan diam dan membiarkan pembunuhan anak terjadi atas dalih takdir.

