Bacaan
TopikPetunjuk, Penolakan, dan Determinisme Ilahi
قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا ۚ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ
Sungguh, bukti-bukti yang nyata telah datang dari Tuhanmu. Barang siapa melihat (kebenaran itu),321) maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka dialah yang rugi. Dan aku (Muhammad) bukanlah penjaga(mu).
Catatan Depag
*321) Barang siapa mengetahui kebenaran dan mengerjakan kebajikan, serta memperoleh petunjuk, maka dia telah mencapai puncak kebahagian.
Kritik
Ayat 104 (Masalah Pembicara): Seperti halnya Al-Fatihah, pembicara dalam ayat ini secara gamblang adalah Muhammad sendiri, bukan Tuhan. Kalimat "Aku bukanlah pemelihara kalian" (wa-ma ana 'alaykum bi-hafiz) tidak didahului kata perintah "Katakanlah" (Say/Qul) dalam teks asli, yang memperlihatkan kecerobohan editorial
Logical Fallacy
False Equivalence: Menyamakan penerimaan pesan ilahi dengan 'melihat' dan penolakan dengan 'buta' adalah analogi yang stigmatisasi dan tidak proporsional.

