Formula pujian (sabbaha/yusabbihu) yang membuka surat-surat Musabbihat ini membongkar fakta bahwa teks-teks tersebut merupakan daur ulang dari fragmen himne dan naskah liturgi komunal peninggalan tradisi Timur Dekat,. Bukti analisis struktural memperlihatkan bahwa "wahyu" ini secara praktis mengadopsi mentah-mentah format ibadah kebaktian (liturgi yang dibuka dengan nyanyian pujian dan ditutup dengan khotbah/sermon) lalu dijahit menjadi surat,. (Karim Samji, Mapping the Musabbihat).