Bacaan
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun berkenaan dengan para sahabat miskin yang tinggal di pelataran masjid (Ahlus Suffah), seperti Khabbab bin Al-Aratt. Mereka melihat kekayaan yang dimiliki Bani Quraizhah dan Bani Nadhir lalu sangat menginginkan kelapangan harta duniawi. Allah memperingatkan bahwa jika rezeki dilapangkan secara berlebihan, manusia cenderung akan berbuat kerusakan. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Ayat ini turun untuk menanggapi angan-angan Ahluêêuffah, yakni orang-orang miskin yang tinggal di Masjid Nabawi, agar diberi rezeki yang berlimpah ruah. Allah menegaskan bahwa Dia menurunkan rezeki kepada tiap orang sesuai kadar yang diinginkan-Nya. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
TopikHikmah dalam Pemberian Rezeki (Ayat 27-29)
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.
Contradiction
Kontradiksi atribut: S42:27 menyatakan Allah sengaja membatasi rezeki agar manusia tidak berbuat kerusakan—ini mengimplikasikan kemiskinan adalah kebijakan ilahi, bukan kegagalan sosial. Bertentangan dengan S4:32 yang memerintahkan mencari karunia Allah dan S62:10 yang mendorong aktivitas ekonomi.

