Bacaan
TopikPelajaran dari Umat Terdahulu (Ayat 21-22)
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوا هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَآثَارًا فِي الْأَرْضِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ
Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) peninggalan-peninggalan (peradaban)nya di bumi, tetapi Allah mengazab mereka karena dosa-dosanya. Dan tidak akan ada sesuatu pun yang melindungi mereka dari (azab) Allah.
Logical Fallacy
(40:21-22): Post hoc ergo propter hoc - Memaksakan hubungan kausalitas yang keliru dengan mengklaim bahwa peninggalan peradaban kuno yang kuat runtuh semata-mata karena "dosa-dosa" dan keingkaran mereka terhadap rasul, bukan karena proses sejarah yang dapat diobservasi.
Moral Concern
(40:21-22): Menjadikan kehancuran peradaban-peradaban besar dan pemusnahan kekuatan manusia di masa lalu sebagai ancaman berulang demi menegaskan otoritas melalui teror.

