Bacaan
TopikKeesaan dan Kekuasaan Allah (Ayat 4-6)
لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لَاصْطَفَىٰ مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang telah diciptakan-Nya. Mahasuci Dia. Dialah Yang Maha Esa, Mahaperkasa.
Logical Fallacy
(39:4): Non sequitur fallacy (Kesimpulan yang tidak berhubungan) - Berargumen bahwa karena Tuhan bisa memilih anak dari ciptaan-Nya jika Dia mau, maka Dia pasti Maha Esa. Kesimpulan ketauhidan ini tidak memiliki benang merah logis dari premis pengandaian "memilih anak" tersebut.
Contradiction
Kontra S112:3: Allah tidak beranak; S39:4 menggunakan kondisional 'sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih dari apa yang Dia ciptakan' — framing kondisional ini secara implisit membuka kemungkinan teoritis bahwa Allah bisa mengambil anak. Ini tension dengan pernyataan kategorikal S112:3 bahwa Allah 'lam yalid' (tidak beranak) tanpa kondisi.

