Bacaan
TopikMusa Dewasa dan Melarikan Diri dari Mesir (Ayat 14-22)
وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَٰذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَٰذَا مِنْ عَدُوِّهِ ۖ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ ۖ قَالَ هَٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ
Dan dia (Musa) masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki sedang berkelahi; yang seorang dari kaumnya (Bani Israil) dan yang seorang (lagi) dari pihak musuhnya (kaum Fir'aun). Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan musuhnya itu mati. Dia (Musa) berkata, "Ini adalah perbuatan setan.607) Sungguh, dia (setan itu) adalah musuh yang jelas menyesatkan."
Catatan Depag
*607) Musa -'alaihissalām- menyesal atas kematian orang itu karena pukulannya, sebab dia tidaklah bermaksud untuk membunuhnya, tetapi hanya semata-mata membela kaumnya.
Moral Concern
(28:15-16): Musa meninju dan membunuh seseorang secara impulsif murni karena sentimen kesukuan (membela golongannya), namun Tuhan langsung mengampuninya begitu saja hanya karena ia meminta maaf. Ini menunjukkan standar ganda dan kebobrokan moral hukum, di mana tindak pidana pembunuhan diwajarkan dan dimaafkan dengan mudah asal pelakunya adalah utusan kesayangan Tuhan.
Contradiction
Kontradiksi Naratif Pembunuhan Musa: Ayat ini menyatakan Musa memukul seorang Mesir hingga mati lalu berdoa minta ampun — bertentangan dengan 20:40 yang hanya menyatakan aku lari darimu karena aku takut tanpa menyebutkan pembunuhan.

