Bacaan
TopikPenyesalan di Akhirat dan Keadaan Hari Kebangkitan (Ayat 99-118)
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ
Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya.
Kritik
- Ayat 65, 66, 79, dan 101 (Teks Alternatif yang Tumpang Tindih): Ini adalah jejak redaksional yang paling nyata. Ayat 66, 79, dan 101 semuanya dimulai dengan frasa yang sama yakni hatta idha (hingga apabila), dan merupakan tiga versi alternatif kelanjutan untuk ayat 65. Secara logika bahasa, ayat 101 adalah satu-satunya kelanjutan langsung yang benar untuk ayat 65. Namun para pengumpul manuskrip kuno rupanya memasukkan semua draft alternatif tersebut ke dalam versi final secara tumpang tindih.
- kritik lainnya: Deskripsi dan ancaman-ancaman eskatologis di ayat-ayat ini memiliki resonansi intertekstual yang sangat kuat dengan literatur apokaliptik Yahudi-Kristen 4 Ezra 7. Ini adalah bukti nyata bagaimana teks Qur'an tidak turun di ruang hampa, melainkan merupakan kompilasi yang menyerap dan mendaur ulang literatur-literatur tentang kiamat yang sedang populer beredar di lingkungan (milieu) Timur Dekat pada periode Late Antiquity. (Tommaso Tesei, Q 23:93-103 and 4 Ezra 7 / IQSA).

