Al-Mu'minun (Orang-Orang Mukmin) Ayat 91

Bacaan

TopikKetiadaan Sekutu Bagi Allah (Ayat 91-92)

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَٰهٍ ۚ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

(23:91) Allah tidak mempunyai anak, tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya, (sekiranya tuhan banyak), maka masing-masing tuhan itu akan membawa apa (makhluk) yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,

Kritik

Ayat 69 dan 89, 91 (Error Gramatikal): Pada ayat 69, kata ganti bihi sama sekali tidak memiliki rujukan yang jelas, dan kata samiran secara gramatikal menyalahi aturan dhu l-hal. Teks aslinya diduga kuat rusak, dan seharusnya berbunyi biha dan summuran Di ayat 89 dan 91, pengulangan kata li-llahi adalah kesalahan salin mekanis dari ayat 87, dan seharusnya berbunyi Allahu

Cacat Logika

Negative Hypothetical as Proof – 'Allah tidak mempunyai anak; sekiranya tuhan banyak, masing-masing pasti ingin menguasai apa yang diciptakannya' adalah argumen hipotetis tentang konsekuensi politeis. Argumen ini tidak membuktikan monoteisme; hanya menunjukkan konflik potensial dalam politeisme — dan banyak tradisi politeistik memiliki hierarki dewa yang terstruktur.

Sains

Klaim 'seandainya ada dua tuhan, masing-masing akan membawa ciptaannya sendiri dan akan berusaha mengalahkan yang lain' (argumen tathlith) — ini adalah argumen teleologis yang tidak dapat diverifikasi secara empiris; premis tentang 'dua dewa yang berkonflik' menggunakan logika manusiawi yang diproyeksikan pada entitas metafisik.