Bacaan
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun mengenai peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW sedang membacakan Surah An-Najm dan sangat berharap kaumnya mendapat hidayah. Setan kemudian menyelipkan kata-kata pujian terhadap berhala ("Gharaniq" yang diharapkan syafaatnya) ke dalam lisan Nabi sehingga kaum musyrik ikut sujud kegirangan. Malaikat Jibril lalu turun menegur dan menghapus sisipan setan tersebut. Surah Al-Mu'minun 23:1-10 Ayat ini turun ketika ‘Umar bin Khattab mendengar suara dengungan seperti lebah di dekat wajah Nabi Muhammad SAW saat beliau menerima wahyu. Setelah menghadap kiblat dan berdoa agar Allah menambah nikmat dan kehormatan bagi umatnya, Nabi mengabarkan bahwa 10 ayat ini diturunkan, dan siapa pun yang mengamalkannya akan masuk surga.
TopikPeran Rasul dan Tantangan (Ayat 49-57)
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak (pula) seorang nabi sebelum engkau (Muhammad), melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan,549) setan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginannya itu. Tetapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu, dan Allah akan menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana,
Catatan Depag
*549) Sebagian mufasir mengartikan tamannā dengan "membaca" dan umniyyatihi dengan "bacaannya". Yaitu apabila Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca suatu ayat yang isinya memberikan peringatan kepada orang-orang kafir, mereka segera mengikuti bacaan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan tambahan kata-kata yang membenarkan keyakinan mereka.
Kritik
(22:52) Ayat ini menjadi dasar penting bagi kajian tentang insiden "Ayat-ayat Setan" (Satanic Verses). Shahab Ahmed mengumpulkan puluhan riwayat dari generasi awal Islam (seperti Mujahid, Muqatil, Sa'id bin Jubayr) yang membuktikan bahwa komunitas Muslim masa awal percaya bahwa setan memang berhasil membisikkan ayat palsu memuji berhala kepada Muhammad, dan ayat 22:52 ini diturunkan Tuhan untuk membatalkan (abrogasi) intervensi setan tersebut. Baru ratusan tahun kemudian para ahli hadis dan ortodoksi Islam menyangkal keras historisitas insiden tersebut demi menjaga doktrin kemaksuman nabi. (Tidak dicantumkan)
Contradiction
Kontradiksi Kemaksuman Nabi: Ayat ini menyatakan setan berhasil memasukkan godaan ke dalam hati nabi — bertentangan dengan 53:2-3 yang menyatakan nabi tidak berkata dari hawa nafsu, dan 17:73 yang menyatakan hampir saja Muhammad terpengaruh oleh bujukan.

