Bacaan
TopikBalasan bagi Orang Beriman dan yang Ingkar (Ayat 14-24)
مَنْ كَانَ يَظُنُّ أَنْ لَنْ يَنْصُرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ لْيَقْطَعْ فَلْيَنْظُرْ هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ
Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak akan menolongnya (Muhammad) di dunia dan di akhirat, maka hendaklah dia merentangkan tali ke langit-langit,541) lalu menggantung (diri), kemudian pikirkanlah apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.
Catatan Depag
*541) Kata samā` di sini diartikan dengan langit-langit (atap rumah). Kalau samā` diartikan dengan langit (arti biasa), maka terjemahannya menjadi: kalau musuh Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- marah karena dia mendapat pertolongan dari langit, biarlah mereka membentangkan tali ke langit, dan lihatlah, dapatkah mereka memutuskan pertolongan itu dengan cara tersebut? Dengan kata lain, bodoh sekali mereka jika mengira mereka dapat memutuskan pertolongan Allah dengan cara yang picik itu.
Logical Fallacy
Appeal to Divine Vengeance – 'Barangsiapa menyangka Allah tidak akan menolong Muhammad, hendaklah dia menggantungkan tali ke langit... lalu pikirkan apakah tipuannya itu akan menghilangkan apa yang menyakitkan' adalah saran sarkastis yang berujung pada ancaman kematian terselubung. Ini bukan argumen — melainkan intimidasi.
Moral Concern
(22:15): Menyuruh pihak yang meragukan pertolongan Tuhan untuk merentangkan tali ke langit-langit lalu menggantung diri, sekadar untuk melihat apakah tindakan itu bisa menghilangkan kekesalannya. Menggunakan anjuran bunuh diri sebagai ejekan sarkastis untuk merespons keraguan rasional manusia adalah bentuk pelecehan psikologis yang menjijikkan.

