Bacaan
TopikKisah Umat Terdahulu dan Pola Kekafiran (Ayat 9-10)
قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ
Rasul-rasul mereka berkata, "Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu (untuk beriman) agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai waktu yang ditentukan?" Mereka berkata, "Kamu hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu ingin menghalangi kami (menyembah) apa yang dari dahulu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata."
Kritik
Petitio principii: klaim bahwa Allah menciptakan manusia digunakan untuk membenarkan kewajiban beriman kepada-Nya — lingkaran argumentasi.
Logical Fallacy
Argumentum ad antiquitatem (Seruan pada tradisi) - Ayat 9-10 menyebutkan kaum-kaum terdahulu sebagai bukti, namun respons yang dikritik justru "kamu ingin menghalangi kami (menyembah) apa yang dari dahulu disembah nenek moyang kami". Petitio principii (Begging the question) - Ayat 10-11 berputar dalam argumen melingkar tentang bukti kenabian, di mana pembuktian ditunda dengan menyatakan "tidak pantas bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah".

