Ar-Ra'd (Guruh) Ayat 31

Bacaan

TopikKonsekuensi Iman dan Kekafiran (Ayat 25-31)

وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَىٰ ۗ بَلْ لِلَّهِ الْأَمْرُ جَمِيعًا ۗ أَفَلَمْ يَيْأَسِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا ۗ وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُمْ بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِنْ دَارِهِمْ حَتَّىٰ يَأْتِيَ وَعْدُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

(13:31) Dan sekiranya ada suatu bacaan (Kitab Suci) yang dengan itu gunung-gunung dapat digoncangkan, atau bumi jadi terbelah, atau orang yang sudah mati dapat berbicara, (itulah Al-Qur`an). Sebenarnya segala urusan itu milik Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman mengetahui bahwa sekiranya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sampai datang janji Allah (penaklukan Mekkah). Sungguh, Allah tidak menyalahi janji.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun ketika kaum Quraisy menantang Nabi Muhammad SAW untuk memindahkan gunung-gunung di Makkah, memunculkan sungai-sungai, menghidupkan leluhur mereka yang sudah mati, atau mengubah batu menjadi emas. Allah memberi Nabi pilihan untuk mengabulkannya (dengan ancaman mereka akan diazab total jika tetap ingkar) atau membuka pintu rahmat agar keturunan mereka beriman kelak, dan Nabi memilih pintu rahmat.

Cacat Logika

Post hoc ergo propter hoc (Setelah ini, maka karena ini) - Ayat 31 dan 41 mengimplikasikan bahwa bencana yang menimpa kelompok tertentu adalah akibat dari kekafiran, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lain. Circular reasoning (Penalaran melingkar) - Ayat 27 dan 31 menjelaskan bahwa Allah memberi petunjuk dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, kemudian menggunakan keselamatan/kesesatan seseorang sebagai bukti kehendak-Nya.

Moral

(13:31-32): Tuhan mengakui bahwa jika Dia mau, Dia bisa dengan mudah membuat seluruh umat manusia beriman. Namun, Dia justru memilih memberi kelonggaran waktu bagi orang kafir agar bisa mendatangkan bencana dan membinasakan mereka dengan siksaan yang lebih hebat di kemudian hari. Memilih skenario penghancuran perlahan daripada penyelamatan seketika menunjukkan fiksasi pada penderitaan ciptaan-Nya.

Kontradiksi

Kontradiksi Internal Teks: Teks standar berbunyi "a-fa-lam yay'asi" (tidakkah orang beriman berputus asa?), sedangkan Ibn Abbas—sahabat Nabi dan mufasir utama—membaca "yatabayyan" (tidakkah orang beriman melihat dengan jelas?). Dua bacaan kanonik yang valid menghasilkan makna yang berlawanan total, menunjukkan ketidakstabilan teks pada masa formatif.