Bacaan
TopikPelajaran dari Kisah-kisah Umat Terdahulu (Ayat 100-109)
فَلَا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِمَّا يَعْبُدُ هَٰؤُلَاءِ ۚ مَا يَعْبُدُونَ إِلَّا كَمَا يَعْبُدُ آبَاؤُهُمْ مِنْ قَبْلُ ۚ وَإِنَّا لَمُوَفُّوهُمْ نَصِيبَهُمْ غَيْرَ مَنْقُوصٍ
Maka janganlah engkau (Muhammad) ragu-ragu tentang apa yang mereka sembah. Mereka menyembah sebagaimana nenek moyang mereka dahulu menyembah. Kami pasti akan menyempurnakan pembalasan (terhadap) mereka tanpa dikurangi sedikit pun.
Kritik
Terjemahan literal secara eksplisit menyebut orang-orang musyrik, tetapi DEPAG menghindari penggunaan istilah 'musyrik' dan hanya menggambarkan perbuatan mereka: 'apa yang mereka sembah'. Ini mengaburkan identitas kaum yang dimaksud.
Logical Fallacy
Non Sequitur - Ayat 109 menyiratkan bahwa penyembahan tradisional nenek moyang secara inheren layak mendapat balasan negatif, tanpa menunjukkan hubungan logis antara tradisi dan kesalahan moral.

