Bacaan
TopikKisah Nabi Luth dan Kaumnya (Ayat 77-83)
قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ ۖ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ ۖ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ ۚ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۚ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ
Mereka (para malaikat) berkata, "Wahai Luṭ! Sesungguhnya kami adalah para utusan Tuhanmu, mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah bersama keluargamu pada akhir malam dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia (juga) akan ditimpa (siksaan) yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat terjadinya siksaan bagi mereka itu pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?"
Logical Fallacy
Argumentum ad Baculum - Ayat 81-83 dan 94-95 menggambarkan kehancuran total sebagai konsekuensi ketidakpercayaan, menggunakan ancaman sebagai pengganti argumentasi logis.
Moral Concern
(11:81-83): Menghujani negeri kaum Luth secara bertubi-tubi dengan batu terbakar, serta memastikan istri Luth ikut terkena siksaan dan mati terbunuh hanya karena ia tidak mengikuti perintah untuk "tidak menoleh ke belakang". Menghukum mati penduduk sebuah kota secara kolektif, termasuk untuk pelanggaran yang sangat remeh, melanggar prinsip proporsionalitas keadilan.

