Bacaan
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun setelah kaum muslimin mendapat teguran keras karena banyak yang bolos dari medan perang. Akibatnya, pada panggilan perang berikutnya, seluruh kaum muslimin berbondong-bondong pergi berperang tanpa terkecuali, hingga meninggalkan Nabi sendirian di Madinah. Ayat ini turun mengingatkan bahwa harus ada sebagian yang menetap untuk memperdalam ilmu agama. Surah Yunus 10:2 Ayat ini turun ketika kaum kafir Makkah merasa heran, mengejek, dan menganggap bahwa Allah terlalu agung untuk mengutus seorang manusia biasa (Nabi Muhammad) sebagai rasul-Nya.
TopikNasihat Akhir dan Penutup (Ayat 119-129)
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.
Kritik
- (9:122) Pada lembar Folio 22 recto manuskrip Sana'a, ditemukan sangat banyak varian redaksional yang berbeda dari teks standar. Beberapa contohnya: di ayat 122 tertulis min kulli ummatin (standar: min kulli firqatin); di ayat 125 tertulis rijsun (standar: maradun) dan fasiqun (standar: kafirun); serta di ayat 127 tertulis hal yara-na / "apakah dia melihat kita" (standar: hal yara-kum / "apakah dia melihat kalian"). (Tidak dicantumkan)
- (9:122) Lembaran Manuskrip Sanaa Folio 22 memuat belasan varian teks yang berbeda secara esensial dari versi Utsmani (misalnya "radjzan" menjadi "rijsan", dan penghilangan kata "wa"). (Tidak dicantumkan)

