Al-Anfal (Rampasan Perang) Ayat 60

Bacaan

TopikPersiapan Menghadapi Musuh (Ayat 60-63)

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

(8:60) Dan persiapkanlah segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).

Cacat Logika

Divine Sanction for Militarism – Perintah 'persiapkanlah segala kemampuan... dengan kekuatan' sebagai perintah ilahi menciptakan kewajiban sakral untuk membangun kapasitas militer. Ini menjadikan militarisasi sebagai ibadah, bukan sekadar kebutuhan defensif.

Moral

(8:60): Mendorong militerisasi dan taktik terorisme dengan memerintahkan persiapan pasukan tempur secara maksimal murni untuk "menggentarkan" atau meneror musuh-musuh agama.

Sains

QS 8:60 memerintahkan mempersiapkan 'kuda-kuda yang ditambatkan' untuk menakut-nakuti musuh. Preskripsi militer abad ke-7 ini — menggunakan kavaleri kuda sebagai kekuatan deterren — dikemas sebagai perintah Allah yang berlaku universal, padahal jelas terikat konteks historis teknologi perang pra-modern.